Nyala api dari korek api menyulut ujung sebatang rokok sebentar
membekas merah sebentuk bara berpendar
mula hidup dari yang mati
Hisap,
Biar bara tetap nyala
Hisap,
Biar asap tetap ngepul
setiap hisap, tembakau membara
Menyedikitkan usia
Setiap hisap, bara mengabu
membanyakkan cerita
Aku dan rokok satu laku membakar waktu, menorehkan cerita
(19 Agustus 2010)
Senin, 06 Desember 2010
Lha ? Njok ngopo ? Ora po-po jane. Lha ?
"kita berdua hanya saling bercerita, tak perlu memuji" begitu lirik sebuah lagu yang menginspirasi dan mengawali catatan ini
Saling bercerita, cerita tentang apa saja, dulu, kini tidak lagi, meski aku masih ingin berbagi cerita, kini dan nanti. Mungkin kamu sudah bosan membaca ceritaku, sehingga kamu tidak mau bertanya lagi, , ,bertanya ? Menyapa pun tidak lagi. . .atau kamu mau bercerita ? Ah tidak juga, selama ini kamu lebih banyak membaca daripada menulis cerita. . .bercerita ? Aku bertanya saja, kamu tak menjawab. . .bertanya ? Aku sapa saja, kau memalingkan muka, , ,dengan diam kau tutup cerita. . .tapi, terima kasih sudah pernah mau berbagi, meski tidak lagi
(28 Juli 2010)
Romantika Kereta
Ahahay. . .naik kereta dua kali dalam sehari setelah sekian lama
Tak perlu berlama-lama
pandangan mengembang begitu saja
bahkan untuk menarik pemicunya pun tak lagi sempat
ya, mengembang dan mengembang tiba-tiba
Mengamati deru nafas bergelimangan,
Mata belalang telanjang lalu lalang terlihat tak tenang
Mencari ranjang untuk telentang
Hmmm. . .Strategi kesendirian berserakan
gerilya kemapanan individual jelas terlihat di keramaian
sedang debu-debu jejak langkah masih saja terabaikan
'mas karcisnya', kata kondektur kereta
Sepi pergi karenanya
Dasar cecurut kereta setengah baya
Mengganggu lamunan senja
berfokus fatamorgana seorang wanita
diluar kaca jendela
Kuulungkan karcis seharga delapan ribu rupiah padanya
Eh, hanya dilubangi terus pergi
tanpa patah kata ketiga dari mulutnya
Tapi mau apalagi, memang itu tugas yang diemban itu orang
untuk melanjutkan hidup diluar gerbong kereta, muda tapi tua
Ah. . . Memang, dasar cecurut kereta setengah baya
Hmm. . .biarlah, memang selalu seperti itu
Romantika kereta jurusan jogja-solo-jogja
Ya, seperti biasa, selalu biasa. . .
( seko draft, asline mboh kapan, sik jelas kurang gawean, dadi ra nyambung, jan e merga ra oleh lungguhan terus nyalahke liyane we, ra urus tenan,hahaha)
(26 Juli 2010)
Tak perlu berlama-lama
pandangan mengembang begitu saja
bahkan untuk menarik pemicunya pun tak lagi sempat
ya, mengembang dan mengembang tiba-tiba
Mengamati deru nafas bergelimangan,
Mata belalang telanjang lalu lalang terlihat tak tenang
Mencari ranjang untuk telentang
Hmmm. . .Strategi kesendirian berserakan
gerilya kemapanan individual jelas terlihat di keramaian
sedang debu-debu jejak langkah masih saja terabaikan
'mas karcisnya', kata kondektur kereta
Sepi pergi karenanya
Dasar cecurut kereta setengah baya
Mengganggu lamunan senja
berfokus fatamorgana seorang wanita
diluar kaca jendela
Kuulungkan karcis seharga delapan ribu rupiah padanya
Eh, hanya dilubangi terus pergi
tanpa patah kata ketiga dari mulutnya
Tapi mau apalagi, memang itu tugas yang diemban itu orang
untuk melanjutkan hidup diluar gerbong kereta, muda tapi tua
Ah. . . Memang, dasar cecurut kereta setengah baya
Hmm. . .biarlah, memang selalu seperti itu
Romantika kereta jurusan jogja-solo-jogja
Ya, seperti biasa, selalu biasa. . .
( seko draft, asline mboh kapan, sik jelas kurang gawean, dadi ra nyambung, jan e merga ra oleh lungguhan terus nyalahke liyane we, ra urus tenan,hahaha)
(26 Juli 2010)
Kunjungan Spontan
Bagian satu:
Gerimis, sambutan selamat datang negeri di atas awan
Gairah mengalah, bersikap ramah tamah
Menumbuhkan keterasingan kehidupan urban
Gerah pemicu resah, melemah tak bergairah
Membangunkan kerinduan akan tanah kelahiran
Daerah basah, memusnah
Benih-benih hawa dingin sejuk menyegarkan
Tumbuh alami silih berganti
Kabut putih selimut negeri
Turun perlahan, pertanda kedalaman di balik penampilan
Bagian dua:
Daerah pedesaan berwajah merona
Memesona para tersangka penggila harta
Untuk menyusun strategi komersialisasi
Dengan dalih membuat lestari
Atau memperkenalkan ke seluruh negeri
Padahal memperkaya diri
Hampir pasti, eksploitasi yang terjadi
Eksplorasi sembarangan berkepanjangan
Hingga hanya menyisakan kegerahan
Memendam dalam masa depan di kuburan kenangan
Di kedalaman yang sering terlupakan
Gerimis, sambutan selamat datang negeri di atas awan
Gairah mengalah, bersikap ramah tamah
Menumbuhkan keterasingan kehidupan urban
Gerah pemicu resah, melemah tak bergairah
Membangunkan kerinduan akan tanah kelahiran
Daerah basah, memusnah
Benih-benih hawa dingin sejuk menyegarkan
Tumbuh alami silih berganti
Kabut putih selimut negeri
Turun perlahan, pertanda kedalaman di balik penampilan
Bagian dua:
Daerah pedesaan berwajah merona
Memesona para tersangka penggila harta
Untuk menyusun strategi komersialisasi
Dengan dalih membuat lestari
Atau memperkenalkan ke seluruh negeri
Padahal memperkaya diri
Hampir pasti, eksploitasi yang terjadi
Eksplorasi sembarangan berkepanjangan
Hingga hanya menyisakan kegerahan
Memendam dalam masa depan di kuburan kenangan
Di kedalaman yang sering terlupakan
Hidangan Lamunan
Di rentang perpanjangan malam,
Murung merenung,
Menerawang awang-awang, gamang
Memandangi kabut mimpi menurun dengan
kecepatan meningkat cepat
Jauh menjauh
Dekat mendekat
Lepas batas
Mengikat erat
Memerangkap diri di dimensi mimpi
Dimensi idaman penuh kenikmatan
Seiring kabut membatas pandang
Sesosok mimpi menari-nari, menghampiri
Berbingkai pakaian putih transparan
yang bawah dibelah hingga selangkangan,
yang atas dilepas letupkan sembulan buah dada,
Memikat terpikat
Daya upaya untuk lari terpedaya dan tak berdaya
Diri tak sadari mengawali
Mengulum bibir seksi mimpi yang mungil
saling membuka, meraba, menikmati lekuk tubuh telanjang
Bersetubuh, bersenyawa berkelenjotan, keranjingan
sampai orgasme lupa
melupa untuk menyata
menyata sekadar ingat dan jeda
Seperti iklan hanya selingan dilupakan
(05 Juli 2010)
Murung merenung,
Menerawang awang-awang, gamang
Memandangi kabut mimpi menurun dengan
kecepatan meningkat cepat
Jauh menjauh
Dekat mendekat
Lepas batas
Mengikat erat
Memerangkap diri di dimensi mimpi
Dimensi idaman penuh kenikmatan
Seiring kabut membatas pandang
Sesosok mimpi menari-nari, menghampiri
Berbingkai pakaian putih transparan
yang bawah dibelah hingga selangkangan,
yang atas dilepas letupkan sembulan buah dada,
Memikat terpikat
Daya upaya untuk lari terpedaya dan tak berdaya
Diri tak sadari mengawali
Mengulum bibir seksi mimpi yang mungil
saling membuka, meraba, menikmati lekuk tubuh telanjang
Bersetubuh, bersenyawa berkelenjotan, keranjingan
sampai orgasme lupa
melupa untuk menyata
menyata sekadar ingat dan jeda
Seperti iklan hanya selingan dilupakan
(05 Juli 2010)
Langganan:
Postingan (Atom)